An-Naba’
النَّبَأ
Penegasan tentang kepastian hari kebangkitan, dibuka dengan pertanyaan tentang “berita besar”, ditutup dengan gambaran nyata hari kiamat, neraka, dan surga.
Makna & Latar Surat
Latar surat ini bersifat tematik, bukan satu peristiwa tunggal. Orang-orang musyrik Makkah kala itu sering berkumpul dan ramai memperdebatkan serta mengingkari hari kebangkitan yang dikabarkan Nabi Muhammad ط. Surat ini turun menjawab keraguan mereka: dari pertanyaan tentang "berita besar" itu, dilanjutkan bukti-bukti kekuasaan Allah lewat penciptaan bumi, gunung, siang-malam, dan hujan, hingga gambaran hari kiamat — azab bagi yang melampaui batas dan kenikmatan bagi yang bertakwa. Dibaca setiap awal surat
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Ayat 1
Pembukaanعَمَّ يَتَسَاءَلُونَ
'Amma yatasaa-aluun
Tentang apakah mereka saling bertanya?
Ayat 2
عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ
'Anin naba-il 'azhiim
Tentang berita yang besar (hari Kebangkitan)
Ayat 3
الَّذِي هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ
Alladzii hum fiihi mukhtalifuun
yang dalam hal itu mereka berselisih.
Ayat 4
كَلَّا سَيَعْلَمُونَ
Kallaa saya'lamuun
Sekali-kali tidak! Kelak mereka akan mengetahui.
Ayat 5
ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُونَ
Tsumma kallaa saya'lamuun
Sekali lagi, tidak! Kelak mereka akan mengetahui.
Ayat 6
Bukti Ciptaan Allahأَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا
Alam naj'alil ardha mihaadaa
Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan
Ayat 7
وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا
Wal jibaala awtaadaa
dan gunung-gunung sebagai pasak?
Ayat 8
وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجًا
Wa khalaqnaakum azwaajaa
Kami menciptakan kamu berpasang-pasangan.
Ayat 9
وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا
Wa ja'alnaa naumakum subaataa
Kami menjadikan tidurmu untuk beristirahat.
Ayat 10
وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا
Wa ja'alnal laila libaasaa
Kami menjadikan malam sebagai pakaian
Malam disebut sebagai pakaian karena kegelapannya menutupi alam sebagaimana pakaian menutupi tubuh manusia.
Ayat 11
وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا
Wa ja'alnan nahaara ma'aasyaa
Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan.
Ayat 12
وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًا
Wa banainaa fauqakum sab'an syidaadaa
Kami membangun tujuh (langit) yang kukuh di atasmu.
Ayat 13
وَجَعَلْنَا سِرَاجًا وَهَّاجًا
Wa ja'alnaa siraajaw wahhaajaa
Kami menjadikan pelita yang terang-benderang (matahari).
Ayat 14
وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجًا
Wa anzalnaa minal mu'shiraati maa-an tsajjaajaa
Kami menurunkan dari awan air hujan yang tercurah dengan deras
Ayat 15
لِنُخْرِجَ بِهِ حَبًّا وَنَبَاتًا
Linukhrija bihii habbaw wa nabaataa
agar Kami menumbuhkan dengannya biji-bijian, tanam-tanaman,
Ayat 16
وَجَنَّاتٍ أَلْفَافًا
Wa jannaatin alfaafaa
dan kebun-kebun yang rindang.
Ayat 17
Hari Kiamatإِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتًا
Inna yaumal fashli kaana miiqaataa
Sesungguhnya hari Keputusan itu adalah waktu yang telah ditetapkan,
Ayat 18
يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجًا
Yauma yunfakhu fish shuuri fata'tuuna afwaajaa
(yaitu) hari (ketika) sangkakala ditiup, lalu kamu datang berbondong-bondong.
Ayat 19
وَفُتِحَتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ أَبْوَابًا
Wa futihatis samaa-u fakaanat abwaabaa
Langit pun dibuka. Maka, terdapatlah beberapa pintu.
Ayat 20
وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًا
Wa suyyiratil jibaalu fakaanat saraabaa
Gunung-gunung pun dijalankan. Maka, ia menjadi (seperti) fatamorgana.
Ayat 21
Balasan Nerakaإِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًا
Inna jahannama kaanat mirshaadaa
Sesungguhnya (neraka) Jahanam itu (merupakan) tempat mengintai (bagi penjaga neraka)
Ayat 22
لِلطَّاغِينَ مَآبًا
Lith thaaghiina ma-aabaa
(dan) menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas.
Ayat 23
لَابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا
Laabitsiina fiihaa ahqaabaa
Mereka tinggal di sana dalam masa yang lama.
"Ahqaaban" (masa yang sangat lama) oleh sebagian mufasir ditafsirkan sebagai periode berkali-kali yang tidak pernah benar-benar berakhir bagi penghuni neraka yang kekal di dalamnya.
Ayat 24
لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا
Laa yadzuuquuna fiihaa bardaw wa laa syaraabaa
Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman,
Ayat 25
إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا
Illaa hamiimaw wa ghassaaqaa
selain air yang mendidih dan nanah,
Ayat 26
جَزَاءً وِفَاقًا
Jazaa-aw wifaaqaa
sebagai pembalasan yang setimpal.
Ayat 27
إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَابًا
Innahum kaanuu laa yarjuuna hisaabaa
Sesungguhnya mereka tidak pernah mengharapkan perhitungan.
Ayat 28
وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا
Wa kadzdzabuu bi-aayaatinaa kidzdzaabaa
Mereka benar-benar mendustakan ayat-ayat Kami.
Ayat 29
وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَابًا
Wa kulla syai-in ahshainaahu kitaabaa
Segala sesuatu telah Kami catat dalam kitab (catatan amal manusia).
Ayat 30
فَذُوقُوا فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا
Fadzuuquu falan naziidakum illaa 'adzaabaa
Oleh karena itu, rasakanlah! Tidak akan Kami tambahkan kepadamu, kecuali azab.
Ayat 31
Balasan Surgaإِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا
Inna lil muttaqiina mafaazaa
Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (ada) kemenangan (surga),
Ayat 32
حَدَائِقَ وَأَعْنَابًا
Hadaa-iqa wa a'naabaa
(yaitu) kebun-kebun, buah anggur,
Ayat 33
وَكَوَاعِبَ أَتْرَابًا
Wa kawaa'iba atraabaa
gadis-gadis molek yang sebaya,
Ayat 34
وَكَأْسًا دِهَاقًا
Wa ka'san dihaaqaa
dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman).
Ayat 35
لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا كِذَّابًا
Laa yasma'uuna fiihaa laghwaw wa laa kidzdzaabaa
Di sana mereka tidak mendengar percakapan yang sia-sia dan tidak pula (perkataan) dusta.
Ayat 36
جَزَاءً مِنْ رَبِّكَ عَطَاءً حِسَابًا
Jazaa-am mir rabbika 'athaa-an hisaabaa
(Hal itu) sebagai balasan (dan) pemberian yang banyak dari Tuhanmu,
Ayat 37
رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الرَّحْمَٰنِ ۖ لَا يَمْلِكُونَ مِنْهُ خِطَابًا
Rabbis samaawaati wal ardhi wa maa bainahumar rahmaani laa yamlikuuna minhu khithaabaa
(yaitu) Tuhan (pemelihara) langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, Yang Maha Pengasih. Mereka tidak memiliki (hak) berbicara dengan-Nya.
Ayat 38
يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلَائِكَةُ صَفًّا ۖ لَا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ وَقَالَ صَوَابًا
Yauma yaquumur ruuhu wal malaa-ikatu shaffaa, laa yatakallamuuna illaa man adzina lahur rahmaanu wa qaala shawaabaa
Pada hari ketika Rūḥ dan malaikat berdiri bersaf-saf. Mereka tidak berbicara, kecuali yang diizinkan oleh Tuhan Yang Maha Pengasih dan dia mengatakan yang benar.
Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai maksud rūh pada ayat ini. Ada yang memahaminya sebagai Jibril, tentara Allah, atau malaikat yang diserahi tugas mengurus arwah dan sejenisnya.
Ayat 39
ذَٰلِكَ الْيَوْمُ الْحَقُّ ۖ فَمَنْ شَاءَ اتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِ مَآبًا
Dzaalikal yaumul haqq, faman syaa-attakhadza ilaa rabbihii ma-aabaa
Itulah hari yang hak (pasti terjadi). Siapa yang menghendaki (keselamatan) niscaya menempuh jalan kembali kepada Tuhannya (dengan beramal saleh).
Ayat 40
Penutupإِنَّا أَنْذَرْنَاكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا يَوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا
Innaa andzarnaakum 'adzaaban qariibaa, yauma yanzhurul mar-u maa qaddamat yadaahu wa yaquulul kaafiru yaa laitanii kuntu turaabaa
Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kamu akan azab yang dekat pada hari (ketika) manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya dan orang kafir berkata, “Oh, seandainya saja aku menjadi tanah.”
Penyesalan "ingin menjadi tanah" menggambarkan betapa beratnya azab hari itu, sampai-sampai orang kafir berharap tidak pernah diciptakan sebagai manusia.